AC Milan Perpanjang Kontrak Pierre Kalulu
-AC Milan resmi memperpanjang kontrak salah satu pemainnya. Pemain tersebut adalah Pierre Kalulu yang mendapatkan kontrak jangka panjang.
Kalulu sebenarnya baru saja masuk pada 2020 lalu dari Lyon. Dalam periode dua tahun, pemain berposisi sebagai bek tengah itu dengan cepat jadi pemain inti.
Kebetulan, usianya masih muda. Kalulu lahir tahun 2000 atau usianya sekarang masih 22 tahun. Milan yang memang sedang regenerasi skuad, memutuskan memperpanjang kontrak sang pemain.
Dalam kontrak terbarunya, Kalulu akan bertahan di Milan selama lima tahun ke depan. Kontraknya akan habis pada tahun 2027 mendatang.
Sejarah Dan Profil Desa Suco
Setelah lama saya bertanya dan mecari tentang asal-usul/ sejarah desaku tercinta yaitu Desa Suco baik dari bertanya kepada sesepuh desa, orang tua dan sesepuh saya sendiri, Kini terjawab sudah.
Berikut sejarah dan profil desaku yang saya dapat dari hasil surve saya dan dari tulisan kepala desa Suco yaitu Bapak Taufik Hidayat
Berikut sejarah dan profil desaku yang saya dapat dari hasil surve saya dan dari tulisan kepala desa Suco yaitu Bapak Taufik Hidayat
**** PROFIL DESA *****
1. LEGENDA DAN SEJARAH DESA
a. Legenda Sejarah Desa Suco
Sejarah Desa disusun bersasarkan sebagian bukti–bukti/peninggalan yang terdapat dilingkungan Desa serta menurut sumber cerita dari para sesepuh Desa Suco dan Masyarakat, juga Perangkat Desa/Kepala Dusun yang dapat dipercaya adalah sebagai berikut :
Sejarah Desa Suco tidak jauh berbeda dengan sejarah Desa – Desa yang lain.Desa Suco berdiri pada Tanggal 1 Januarl 1913 yang di Pimpin oleh seorang Tokoh Masyarakat yang bernama Bapak SAONA. Pada awalnya sebelum Bapak SAONA memerintah di Desa Suco , jauh sebelumnya tinggal seorang pemuka Agama Islam atau Kyai yang bernama Mbah / Kakek BUNGKOS, yang konon Beliaulah yang pertama kali babat alas di Desa ini. Oleh karena Beliau adalah seorang Kyai yang kerap kali berda’wah menyiarkan Agama Islam dengan cara berpindah pindah dari satu tempat ketempat lainnya, Ketika Berdakwah Di Desa Kami ( Suco ) terjadi Banjir Bandang ,batu – batu dan pepohonan tumbang dari hutan sebelah timur desa suco ,berikut tanaman lain musnah hanyut terbawa arus , ketika banjir bandang telah reda itulah banyak batu permata ( akik / Socah atau Suco ) yang bermunculan dan berserakan di atas onggokan tanah lumpur . maka sejak itulah Desa Ini di Namakan Desa SUCO.
Nama Petinggi Desa atau Kepala Desa yang pernah dan masih menjabat sampai saat adalah :
Sejak saat itu Desa Suco dipimpin oleh seorang Kepala Desa yang membawahi 3 dusun yaitu :
1. Dusun Karang Sirih
2. Dusun Krajan
3. Dusun Mandigu
Dimana tiap-tiap dusun dipimpin oleh seorang Kepala Dusun atau Pamong Desa yang membawahi RT/RW yang tugasnya sebagai penanggung jawab keamanan. Dan mereka menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya masing-masing dan sebagai imbalan dari pelayanan mereka, masyarakat menyerahkan lahan sawah (tanah bengkok/pecaton) dan diberikan kepada mereka.
Adapun beberapa Nama Kepala Desa yang pernah memimpin DESA SUCO sebagai berikut :
1. Saona : Memimpin dari 1913 S/d tahun 1918
2. Astro : Memimpin dari 1918 S/d tahun 1926
3. Sudjak : Memimpin dari 1926 S/d tahun 1933
4. Misrawi : Memimpin dari 1933 S/d tahun 1934
5. Sukya : Memimpin dari 1934 S/d tahun 1941
6. Muadjib : Memimpin dari 1941 S/d tahun 1943
7. Abdurahman : Memimpin dari 1943 S/d tahun 1972
8 . Rofik : Memimpin dari 1972 S/d tahun 1983
9. Imam Abdullah : Memimpin dari 1983 S/d tahun 1993
10. Ali Usman Efendi : Memimpin dari 1993 S/d tahun 2007
11. Bisno : Memimpin dari 2007 S/d tahun 2013
12. Taufik Hidayat : Memimpin dari 2013 S/d Sekarang
b. Kondisi Umum Desa
Secara umum letak geografis Desa Suco terletak pada wilayah dataran sedang yang luas yang merupakan lembah yang subur. Secara umum batas-batas administrasi Desa Suco meliputi :
Utara : Desa Mumbulsari
Timur : Desa Lampeji
Selatan : Kecamatan Tempurejo
Barat : Desa Tamansari
Desa Suco memiliki luas wilayah 1,457,975 Ha. Dari segi topografi,
Dari luas wilayah tersebut di atas terbagi menjadi beberapa kawasan :
Perkampungan : 92,368 ha
Sawah : 404,000 ha
Rawa : – ha
Semak/padang rumput : – ha
Tanah tegalan : 115.368 ha
Lain-lain : – ha
Selain itu Desa Suco memiliki wilayah berupa Dusun yakni:
1. Dusun Karang Sirih
2. Dusun Krajan
3. Dusun Mandigu
1. Gambaran Umum Demografis Desa Suco
Secara umum Desa Suco mayoritas Penduduknya merupakan Penduduk asli dengan dan sisanya sebagian kecil merupakan Penduduk pendatang. Dilihat dari penyebaran suku bangsa Penduduk Desa Suco mayoritas suku Madura dan sebagian kecil suku Jawa.
Sesuai dengan pendataan penduduk tahun 2014 dan pemutahiran data penduduk tahun 2014 jumlah penduduk Desa Suco 13.148 jiwa yang terdiri dari :
Laki-laki : 6.492 jiwa
Perempuan : 6.656 jiwa
Jumlah KK : 4.201 jiwa
Trik dan Tips Cara Mengatasi Hp Android Lemot juga Lambat
Tips Cara Mengatasi Hp Android yang Lemot atau Lambat – Android merupakan inovasi yang diluncurkan oleh para ahli dalam mendukung kemampuan smartphone yang dari segi komponen dan fitur semakin berkembang. Untuk mengimbangi hal tersebut banyak developer sistem operasi meningkatkan kualitas fitur yang dihadirkan didalamnya. Banyaknya tawaran harga handphone android diera milenium ini, mulai dari 500 ribuan hingga puluhan juta tersedia menyesuaikan kebutuhan spesifikasi yang anda inginkan, misalnya Mito Fantasy Mini yang diluncurkan oleh pabrikan lokal dengan harga 800 ribuan sudah menggunakan os Jelly Bean. Di Indonesia sendiri android itu sudah bukan menjadi barang mewah, sebab bisa kita lihat hampir semua kalangan saat ini menggunakan hp berbasis os milik Google tersebut.
Tips cara mengatasi hp android lemot atau lambat
Dari segi kemudahan, HP Android lebih unggul dari sistem operasi mobile lainnya karena gampang diedit sesuai pengaturan sang pengguna. Namun walaupun begitu, banyak perangkat seluler Android yang mengalami perlambatan sistem atau biasa disebut Lag/lemot, keadaan dimana smartphone mengalami keadaan lambat dalam menjalankan perintah maupun aplikasi yang bisa disebabkan oleh banyak hal mulai dari spesifikasi ponsel tidak cukup tangguh melakukan multitasking atau anda terlalu banyak menginstalkan aplikasi maupun cache aplikasi yang mengakibatkan hp android menjadi lemot. Kesempatan kali ini, blog Informasi Gadget Terbaru akan berbagi
tips cara mengatasi hp android yang lemot atau lambat, simak dan perhatikan info dibawah ini untuk mengatasi masalah melambatnya hp androidmu.
Tips Mengatasi Hp Android Lemot
Memori internal penuh : perlu diperhatikan bahwa terlalu banyak menyimpan data atau menginstalkan aplikasi di memori internal bisa membuat kinerja ponsel menjadi berat. Sebagai saran dari kami, lebih baik menyeimbangi pengguna memori yang ada.
Membersihkan cache : menjalankan aplikasi terkadang bisa meninggal sisa data penyimpanan berkelanjutan atau disebut cache, namun tahukah kamu bahwa penumpukan cache dari aplikasi-aplikasi tersebut dapat menjadi faktor memperlambat kerja hp android anda. Cache juga biasa disebut dengan history jika pada browser. Untuk mencegah sistem menjadi lag akibat penumpukan cache ini kita bisa membersihkannya mengguna aplikasi khusus yang bisa di download di Google Play Store.
Terlalu banyak widget : sebagian orang menghiasi ponsel android mereka dengan berbagai widget yang tujuannya untuk memperindah tampilan atau sekedar untuk membuat kesan imut atau lucu dilayarnya terutama dengan menggunakan live walpaper tetapi diketahui bahwa hal itu bisa memakan daya baterai yang banyak dan memperlambat sistem di handphone anda. Oleh karena itu sebaiknya anda hanya menginstal widget yang benar-benar dirasa penting dan menghindari penggunaan live walpaper.
Update firmaware : Firmware merupakan sistem operasi pada perangkat seluler seperti dan pasti saja memiliki update versi tersendiri. Cara mengatasi hp android yang lemot lainnya adalah dengan selalu mengupdate versi dari os yang digunakan di smartphone karena dengan begitu bisa memberikan peningkatan kinerjanya juga bisa mengatasi masalah aplikasi yang tidak kompatibel.
Menjalankan banyak aplikasi bersamaan bisa mengganggu proses dan mengakibatkan loading menjadi lama karena tugas processor menjadi sangat berat. Solusinya ialah ketika sudah selesai menjalankan aplikasi sebaiknya ditutup dan jika tidak terlalu diperlukan jangan pernah menjalan banyak aplikasi secara bersamaan.
Oke sampai disini dulu informasi dari kami seputar Tips dan Cara Mengatasi Hp Android yang Lemot atau Lambat yang disebabkan oleh berbagai masalah. Dengan adanya tips dan trik diatas diharapkan para pengguna android lebih bijak dalam menggunakan perangkatnya dan menjaga keoptimalan sistem android agar tidak menimbulkan perlambatan kinerja. Terima Kasih.
Bahasa Madura
Bahasa Madura
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Madura مدورا |
|
|---|---|
| Madhura, Basa Mathura | |
| Dituturkan di | Pulau Madura, Pulau Sapudi, pantai utara Jawa timur, Singapura |
| Jumlah penutur | 14 juta (2000) [1] (tidak ada tanggal) |
| Rumpun bahasa | |
| Kode-kode bahasa | |
| ISO 639-2 | mad |
| ISO 639-3 | mad |
Bahasa Kangean, walau serumpun, dianggap bahasa tersendiri.
Di Pulau Kalimantan, masyarakat Madura terpusat di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat, sedangkan di Kalimantan Tengah mereka berkonsentrasi di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas. Namun kebanyakan generasi muda Madura di kawasan ini sudah hilang penguasaan terhadap bahasa ibu mereka.
Daftar isi
Kosakata
Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.Bahasa Madura banyak terpengaruh oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa sangat terasa dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas Pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi sudah tentu dengan lafal yang berbeda.
Contoh :
- bhila (huruf "a" dibaca [e] (info)) sama dengan bila = kapan
- oreng = orang
- tadha' = tidak ada (hampir sama dengan kata tadak dalam Melayu Pontianak)
- dhimma (baca: dimmah) = mana? (hampir serupa dengan dima di Minangkabau)
- tanya = sama dengan tanya
- cakalan = tongkol (hampir mirip dengan kata Bugis : cakalang tapi tidak sengau)
- onggu = sungguh, benar (dari kata sungguh)
- Kamma (baca: kammah mirip dengan kata kama di Minangkabau)= kemana?
Sistem pengucapan
Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi.Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd dan bb . Namun demikian penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah.
Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], [ə] dan [o].
Tingkatan Bahasa
Bahasa Madura sebagaimana bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali juga mengenal Tingkatan-tingkatan, namun agak berbeda karena hanya terbagi atas tiga tingkat yakni:- Ja' - iya (sama dengan ngoko)
- Engghi-Enthen (sama dengan Madya)
- Engghi-Bunthen (sama dengan Krama)
- Berempa' arghena paona?: Mangganya berapa harganya? (Ja'-iya)
- Saponapa argheneppon paona?: Mangganya berapa harganya? (Engghi-Bunthen)
Dialek-dialek Bahasa Madura
Bahasa Madura juga mempunyai dialek-dialek yang tersebar di seluruh wilayah tuturnya. Di Pulau Madura sendiri pada galibnya terdapat beberapa dialek seperti:Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Untuk di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
Contoh pada kasus kata ganti "kamu":
- kata be'en umum digunakan di Madura. Namun kata be'na dipakai di Sumenep.
- sedangkan kata kakeh untuk kamu lazim dipakai di Bangkalan bagian timur dan Sampang.
- Heddeh dan Seddeh dipakai di daerah pedesaan Bangkalan.
Contoh:
- akoh: saya (sengko' dalam bahasa Madura daratan)
- kaoh: kamu (be'en atau be'na dalam bahasa Madura daratan)
- berrA' : barat (berre' dengan e schwa dalam bahasa Madura daratan)
- morrAh: murah (modhe dalam bahasa Madura daratan)
Bawean
Bahasa Bawean ditengarai sebagai kreolisasi bahasa Madura, karena kata-kata dasarnya yang berasal dari bahasa ini, namun bercampur aduk dengan kata-kata Melayu dan Inggris serta bahasa Jawa karena banyaknya orang Bawean yang bekerja atau bermigrasi ke Malaysia dan Singapura, Bahasa Bawean memiliki ragam dialek bahasa biasanya setiap kawasan atau kampung mempunyai dialek bahasa sendiri seperti Bahasa Bawean Dialek Daun, Dialek Kumalasa, Dialek Pudakit dan juga Dialek Diponggo. Bahasa ini dituturkan di Pulau Bawean, Gresik, Malaysia, dan Singapura. Di dua tempat terakhir ini bahasa Bawean dikenal sebagai Boyanese. Intonasi orang Bawean mudah dikenali di kalangan penutur bahasa Madura. Perbedaan kedua bahasa dapat diibaratkan dengan perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang serupa tapi tak sama meskipun masing-masing dapat memahami maksudnya. Contoh-contoh:- eson atau ehon = aku (sengkok/engkok dalam bahasa Madura)
- kalaaken = ambilkan (kalaagghi dalam bahasa Madura)
- trimakasih = terimakasih (salengkong / sakalangkong / kalangkong dalam Bahasa Madura)
- adek = depan (adek artinya dalam bahasa Madura
Perbandingan dengan bahasa Melayu
Bahasa Bawean juga banyak yang sememangnya sama dengan Bahasa Melayu, contohnya:- Dapur (baca: Depor) = Dapur
- Kanan = Kanan
- Banyak (baca: benyyak) = Banyak
- Masuk = Masuk
- Suruh = Suruh
- Ngakan = Makan
- Nginum = Minum
- Arangkak = Merangkak
- Juk-tojuk =Duduk-duduk
- Asapoan = Nyapu
- Acaca = Bicara
- Bajar (baca: Bejer) = Bayar
- Lajan (baca: Lajen) = Layan
- Sembhajang (baca: sembejeng) = Sembahyang
- Bhabang (baca: Bebeng)= Bawang
- Jhaba (baca: Jebe) = Jawa
Perbandingan dengan bahasa Jawa
Perkataan yang sama dengan bahasa Jawa:Bahasa Jawa = Bahasa Bawean
- Kadung = Kadung (Bahasa Melayu = Terlanjur)
- Peteng = Peteng (Bahasa Melayu = Gelap)
Bahasa Jawa ~ Bahasa Bawean
- Lawang = Labang(baca Labeng) (Bahasa Melayu = Pintu)
- Payu = paju (Bahasa Melayu = Laku)
Perbandingan dengan bahasa Banjar
Perkataan yang sama dengan bahasa Banjar:Bahasa Banjar = Bahasa Bawean
- Mukena = Mukena (Bahasa Melayu = Telekung Sembahyang)
- Bibini = Bibini (Bahasa Melayu = Perempuan)
Perbandingan dengan Bahasa Tagalog
Bahasa Bawean = Bahasa Tagalog- Apoy = Apoy (Bahasa Melayu = Api)
- Elong = Elong; penggunaan [e] (Bahasa Melayu = Hidung)
- Matay = Mamatay (Bahasa Melayu = Mati)
- Eson terro ka be'na = saya sayang kamu (di Bawean ada juga yang menyebutnya Ehon, Eson tidak dikenal di bahasa Madura)
- Bhuk, badha berrus? = Buk, ada sikat? (berrus dari kata brush)
- Ekalakaken = ambilkan (di Madura ekala'aghi, ada pengaruh Jawa kuno di akhiran -aken).
- Silling = langit-langit (dari kata ceiling)
Pranala luar
- (Inggris) Ethnologue : "Madurese"
- (Inggris) Ethnologue : "Austronesia, Malayo-Polynesian, Malayo Sumbawan, Madurese"
Catatan kaki
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Jember
Asal Usul Kota Jember
Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi.
Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.
Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER.
VERSI DUA
Dahulu kala, di tepi pantai selatan Pulau Jawa terdapat kerajaan makmur dan tentram. Rajanya arif dan bijaksana. Segala hasil bumi negerinya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Karena itulah, rakyatnya hidup makmur.Kemakmuran kerajaan itu mengundang decak kagum dari kerajaan-kerajaan lain. Namun, juga mengundang niat jahat sekelompok bajak laut.
Mereka ingin menaklukan dan menguasai kerajaan itu. Ketika para pengawal kerajaan sedang lengah, kelompok bajak laut menyerang. Menghadapi serbuan mendadak itu, pasukan kerajaan kalang kabut. Raja ikut berjuang langsung untuk mempertahankan kerajaannya. Namun ia lalu gugur dalam serangan itu. Begitu pula dengan putra-putra dan para menterinya.
Para pasukan hanya berhasil menyelamatkan putri Raja yang bernama Putri Jembarsari. Ia lah satu-satunya pewaris kerajaan yang masih selamat. Para pasukan lalu membawa sang putri ke daerah yang aman, jauh dari kerajaan.Kawanan bajak laut bergembira atas kemenangan itu. Kini, kerajaan itu pun dipimpin oleh kepala bajak laut.
Sementara itu, pengawal kerajaan yang membawa lari Putri Jembarsari tiba di tempat tersembunyi. Selama dalam persembunyian, Putri Jembarsari diajarkan berbagai ilmu beladiri. Putri Jembarsari pun dapat dengan mudah menerima berbagai ilmu itu. Kini, Putri Jembarsari tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menguasai berbagai ilmu beladiri.
Iapun lalu diangkat menjadi pemimpin.Di daerah itu Putri Jembarsari dan pasukannya membuka hutan belantara menjadi sebuah perkampungan yang aman. Lama-kelamaan, banyak orang dari luar daerah berdatangan, lalu bermukim disana. Akhirnya, daerah itu menjadi sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh Putri Jembarsari.
Sementara kerajaan Putri Jembersari semakin besar, tidak demikian halnya dengan kerajaan para bajak laut yang makin terpuruk. Rakyat daerah itu tidak puas dengan pemimpinnya hingga sering terjadi pemberontakan. Dalam pemberontakan yang terakhir, raja bajak laut tewas.Rakyat di kerajaan bajak laut lalu mencari Putri Jembarsari.
Mereka meminta Putri Jembarsari mengambil alih kembali kerajaan bajak laut dan meneruskan tahta ayahandanya.
Namun, Putri Jembarsari bingung. Ia berpikir,Aku kan sudah memiliki kerajaan sendiri. Kalau aku menjadi Ratu di kerajaan bajak laut, siapa yang akan memimpin kerajaan ini? “Namun, penasihatnya memberi usul. Kata penasihat kerajaan, lebih baik kedua kerajaan itu digabung saja. Pasti rakyat kedua kerajaan tidak akan keberatan.
Putri Jembarsari lalu memutuskan‚Baiklah. Itu usul yang baik. Aku setuju untuk menggabungkan dua kerajaan ini.Usul itu pun dilaksanakan. Kini, kerajaan yang dipimpin Putri Jembarsari makin luas. Ternyata, masih saja ada yang iri hati dengan kesuksesan Putri Jembarsari. Ketika mengadakan kunjungan keluar kota, Putri Jembarsari dan pasukannya diserang oleh orang yang iri hati.
Karena tidak siap menghadapi serangan mendadak, Putri Jembarsari gugur. Seluruh rakyat berduka. Untuk mengenang jasanya, nama Putri Jembarsari diabadikan menjadi nama kerajaan itu, yaitu Kerajaan Jembarsari. Lama-kelamaan, nama itu berubah menjadi Jember dan tetap abadi sampai sekarang. Jember terletak di Jawa Timur.
VERSI TIGA
Alkisah ada putri raja Brawijaya bernama Endang Ratnawati. Putri ini cantik jelita hingga membuat para pria ingin berlomba melamarnya. Tapi rupanya sang putri selalu menolak lamaran karena masih belum mau berumah tangga.
Sang putri lalu berniat menyepi. Sang putri keluar masuk hutan hingga berada di suatu daerah terpencil. Saat putri mandi di sungai Jompo datanglah seorang satria yang menggodanya.
Hingga akhirnya satria menodai sang putri. Sang putri pun sedih. Dan karena larut dengan kesedihannya sang putri akhirnya mengeluh. 'Jember, jember badanku sudah kotor ternoda'. Lalu ia pun bunuh diri di sungai itu. Mayatnya kemudian ditemukan oleh orang dan dicari lah keluarganya.
Karena tidak ketemu maka dikuburkanlah sang putri di tepi sungai Bedadung. Raja Brawijaya pun mencari-cari putri nya yang tak kunjung pulang. Hingga akhirnya terdengar kabar kalau sang putri sudah dikuburkan di suatu tempat yang akhirnya di kasih nama Jember (gumaman dari sang putri saat mengeluh).
VERSI EMPAT
Dulu Jember adalah sebuah hutan yang lebat dengan pohon yang sangat besar. sebegitu besarnya pohon tersebut, orang dewasa tidak bisa merangkul dan mempertemukan jemari tangan kiri dan kanannya. Butuh lebih dari satu orang untuk merangkul sebatang pohon.
Selain hutan dan
segala isi di dalamnya, yang ada hanya sungai, gundukan tanah, dan
lautan rawa. Jika-pun ada tanah yang terhampar, bisa dipastikan tanah
tersebut adalah tanah yang becek. Orang-orang menyebut wilayah ini
dengan Jembrek. Bisa diartikan becek dan berlumpur. Kondisi tersebut
semakin menjadi-jadi manakala turun hujan.
Jika turunnya hujan
sangat deras, wilayah yang terbentang di kaki Pegunungan Hyang dan tak
jauh dari Gunung Raung ini juga rawan banjir. Sungai-sungai akan
meluapkan air. Kata Bapak, ini namanya banjir maling.
Seiring berlalunya waktu, pengucapan kata Jembrek berubah menjadi Jember.
Sebuah situs blog
yang memuat tulisan (hasil wawancara dari seorang jurnalis Suara
Soerabaia bernama Tiong Gwan. Dia berhasil membuat tangkapan sesaat
mengenai situasi kota Jember tahun 1920. Berikut adalah cuplikannya.
"Bila ada toeroen oedjan ketjil sadja, soedah tjoekoep membikin straat Djember berobah mendjadi laoetan loempoer."
VERSI LIMA
Sekali peristiwa,
datang seorang tamu bernama Ki Ageng Kedu yang hendak menghadap Sunan
Kudus. tamu tersebut mengendarai sebuah tampah. sesampainya di Kudus Ki
Ageng Kedu tidak lah langsung menghadap Sunan Kudus, melainkan
memamerkan kesaktianya dengan mengendarai tampah serta berputar - putar
diangkasa.
Seketika dilihatnya
oleh Sunan Kudus, maka beliau murka sambil mengatakan, bahwa tamu Ki
Ageng Kedu ini menyombongkan kesaktianya. Sesudah di sabda oleh beliau,
berkat kesaktian Sunan Kudus, tampah yang ditumpangi Ki Ageng Kedu
itupun meluncur ke bawah hingga jatuh ke tanah yang becek (bhs. Jawa : ngecember), sehingga tempat tersebut kemudian dinamakan Jember.
Jember, Kota yang Bingung dengan Sejarahnya
Sebelumnya, ijinkan saya memberi gambaran singkat. Tulisan ini
menjelaskan tentang sejarah kota kecil Jember. Mungkin akan menjadi
tulisan yang agak panjang dan menjemukan. Mohon maaf.
Baiklah, segera akan saya mulai tulisan tentang kota kecil Jember.
Pada saat orang orang sedang sibuk meniupkan terompet tahun barunya, kota kecil Jember justru konsentrasi merayakan Hari Jadinya. Ya benar, pada 1 Januari 2012, Jember genap berusia 83 tahun.
Bercermin pada 1 Januari 1928, secara fakta dan hukum mulai saat itu Jember berubah menjadi ibukota Kabupaten. Dimulai dari ketentuan no 322 tanggal 9 Agustus 1928, berdasarkan staatblad. Jember ditetapkan sebagai Regentschap Djember. Tadinya Jember adalah salah satu wilayah Distrik dari Afdeling Bondowoso.
Kota ini terletak di bagian timur Propinsi Jawa Timur. Jaraknya dari Surabaya 198 km. Sebelah utara berbatasan dengan Bondowoso dan Probolinggo. Sebelah timur berbatasan dengan Banyuwangi. Sebelah barat berbatasan dengan Lumajang. Dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra Indonesia.
Jika kita menengok papan nama di Stasiun Jember, maka kita akan tahu ketinggian daerah kota, kurang lebih 87 meter diatas permukaan laut. Dan bila dirata rata, ketinggian di Jember 0 sampai dengan 3300 mdpl. Itu bila diukur bersama ketinggian Gunung Argopuro yang sebagian masuk wilayah Jember.
Hmmm, membicarakan sejarah memang seringkali menjemukan. Apalagi bila harus memperinci gambaran tentang sebuah kota mulai dari garis meridiennya, temperatur udara, musim, tata wilayah, SDA yang ada, dan sebagainya. Agar lebih terlihat menarik, mari kita tengok asal usul Jember dari sudut pandang mitologi.
Asal Usul Jember
Ada banyak versi tentang asal usul kota Jember. Saya akan mencomotnya satu saja, yang menurut saya (ubyektif) paling masuk akal.
Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi.
Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.
Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER.
Itulah Jember bila dilihat dari legenda yang ada. Saya tampilkan asal asul di atas dengan harapan, akan lahir imajimasi tentang Jember tempo dulu. Bahwa kota ini lahir bukan diebabkan oleh reruntuhan kerajaan, namun memang sengaja dibangun. Pernah saya singgung di tulisan perdana saya di sini, berjudul Jember. Akan saya ceritakan kembali dari sudut yang tidak sama.
Jember dalam lacakan sejarah
Sejarah hanya berhasil melacak daerah ini sampai dengan 1859. Sebelum itu, hanya berupa praduga. Bisa jadi ini karena Jember bukanlah daerah reruntuhan kerajaan. Adapun benda benda kuno yang ditemukan di daerah ini disinyalir merupakan peninggalan kerajaan Majapahit atau Blambangan (Atau kerajaan lain yang sempat melintas di sini.
Saya akan menggambarkan tentang bagaimana Jember sebelum 1859.
Jember hanya merupakan sebuah hutan yang luas dengan pohon pohon yang besar. Tanahnya berawa hingga menyuburkan segala jenis penyakit seperti wabah kolera dan disentri. Bila ingin tinggal di daerah ini, anda harus bisa mengatasi ganasnya alam. Itu gambaran singkatnya (ini benar benar saya gambarkan secara singkat).
Jember pada 1859
Dimulai dari sebuah perkebunan di Jember. Namanya LMOD. Atau lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di Jember tahun 1859. Pertengahan abad 19 Masehi.
Siapa pendirinya? Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal. Pertama, mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja.
Berhubung pribumi Jember sedikit, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah. Ohya, tentang masalah pribumi Jember yang sedikit, itu hanya asumsi dari saya saja. Soalnya sampai saat ini saya masih belum menemukan data tentang itu.
Dihadirkanlah tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras dan ulet. Namun demikian, pihak colonial kesulitan untuk masalah pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan control dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak banyak melahirkan pertentangan. Mempunyai kecenderungan watak penurut.
Alasan kedua kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember. Karena lancarnya Jalur transportasi.
Pada akhirnya, daerah ini semakin berkembang. Untuk mengangkut hasil bumi dan sebagainya, pihak kolonial butuh alat transportasi sebagai solusinya. Lalu dibukalah jalur kereta api dan selesai pada awal abad 20.
Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari Surabaya-Probolinggo-Jember dibarengi dengan membuat jalan darat (rintisan) yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah daerah di bagian barat.
Jember dianggap memiliki prospek yang lebih baik. Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember juga terjadi di wilayah karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah dari karesidenan Besuki.
Perpindahan itu menggunakan berbagai macam cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi Militer.
Kenapa mereka memilih Jember untuk dijadikan areal perkebunan?
Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa hal berikut ini :
1. Masalah pengairan
Tersedianya air yang sangat cukup
2. Tanahnya Subur
Kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan
3. Masalah infrastruktur transportasi dan komunikasi
Infrastruktur transportasi dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak kolonial.
4. Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859).
Masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau. Meskipun dengan jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja.
Masih banyak lagi sejarah kota kecil ini yang terlacak, meskipun jauh lebih banyak lagi yang belum terlacak. Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak tinggal diam. Di situsnya saya temukan kata kata seperti berikut ini.
Berbagai upaya baik seminar maupun penelitian yang telah dilakukan oleh lembaga penelitian, Perguruan Tinggi maupun oleh sejarawan belum bisa mengungkap kejelasan yang pasti tentang kapan Kabupaten ini lahir. Pemkab Jember masih memberi Kesempatan luas untuk menampung sumbangan pemikiran untuk dijadikan bahan kajian dalam menentukan fakta sejarah guna mengetahui kapan hari jadi Kabupaten Jember sebenarnya.
Begitulah, Jember kesulitan menentukan hari lahir yang sebenarnya. Dari kesulitan menentukan hari lahir, merembet pada kesulitan kesulitan yang lain. Contoh paling nyata, Jember selalu bingung menentukan arah budayanya. Istilah kasarnya, orang Jember selalu minder manakala harus membicarakan makanan khas, oleh oleh khas Jember dan kesenian milik Jember.
Alhasil, Jember sengaja membuat tarian bernama tari lahbako. Jember juga memproduksi jajanan suwar suwir dan dikatakan sebagai ‘asli Jember’ padahal jelas jelas suwar suwir terbuat dari sari tape. Sedang tape sendiri sudah terlalu identik dengan Kota Bondowoso.
Jember adalah sebuah daerah pandalungan. Tempat bertemunya berbagai budaya. Dua kebudayaan besar yang mendominasi adalah Jawa dan Madura. Adalah tidak mungkin mencari keaslian budaya. Apalagi bila dari sudut pandang saya pribadi yang tidak percaya dengan adanya budaya asli. Semua pasti mengalami akulturasi.
Solusi subyektif
Berbicara mengenai solusi, saya jadi teringat akan musik tradisional patrol. Musik ini tumbuh dan berkembang di kota kecil Jember. Sangat disayangkan, semakin hari musik rancak yang selalu dirindukan kehadirannya ini semakin terengah engah dan ditinggalkan. Ada anggapan bahwa patrol merupakan seni asli Madura (di sana dikenal dengan nama musik thong thong). Beberapa kota lain juga memiliki seni musik tradisional yang semacam ini.
Bila masyarakat Jember jeli, mereka akan menemukan sesuatu yang khas di musik patrol. Perbedaan yang sangat nampak adalah dari alat musiknya. Musik thong thong Madura menggunakan saronen sebagai alat tiupnya. Sementara musik patrol menggunakan seruling. Lagu yang dinyanyikan juga lebih berwarna. Kadang lagu Madura kadang lirik lirik Jawa. Inilah bukti adanya perkawinan budaya jawa madura.
Dilihat dari namanya, patrol. Dulunya musik ini digunakan oleh masyarakat Jember untuk memanggil burung dara peliharaannya. Selain itu juga sebagai media komunikasi. Ini untuk mengatasi jarak antar rumah yang berjauhan, juga sebagai penanda manakala sewaktu waktu terjadi sesuatu. Misalnya bencana alam, pencurian, kematian dan sebagainya. Mengenai model ketukannya, tergantung kesepakatan.
Seiring perkembangan areal perkebunan, musik patrol juga digunakan untuk berpatroli keliling kebun, demi memastikan semuanya baik baik saja.
Begitulah, tak ada yang asli di Jember. Kita harus mengesampingkan kata kata asli. Karena memang lebih bijak bila kata asli diganti dengan kata khas.
Tentang sejarah
Saya tahu, penarikan sejarah yang dimulai pada 1859 lahir di wilayah akademisi Universitas Jember. Tapi itu bukan final. Terbukti, di sana terdapat celah. Disebutkan bahwa pihak kolonial tertarik membangun perkebunan tembakau karena sudah ada masyarakat lokal Jember yang bisa meracik tembakau. Nah, tugas kita hanyalah mencari data di tahun sebelum 1859. Dan ini bukan sebuah kemustahilan.
Saya contohkan tentang kerajaan Sriwijaya. Ada peninggalan prasasti dan diyakini, keberadaan Sriwijaya sudah ada pada abad ke tujuh. Karena peperangan di abad 12, kerajaan ini jatuh dan terlupakan. Eksistensinya baru diketahui lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis.
Saya yakin Jember bisa melacak kembali sejarahnya bila dilakukan benar benar, bukan hanya sambilan. Dan tidak hanya terjebak pada pembangunan identitas yang bersifat populer.
Memberikan porsi yang cukup pada sejarah itu indah. Setidaknya, dengan menghargai sejarah, Jember akan terlihat lebih anggun dalam menghadapi era global.
Bagaimana memulainya?
Kenapa tidak dimulai dengan pembangunan Jalan Deandles? dari sana saja, itu sudah mematahkan teori bahwa Jember hanya terdeteksi sejak 1859. Atau kalau ingin yang lebih prestisius lagi, mari kita tengok tahun 1359. Saat itu Raja Hayam Wuruk sedang melakukan perjalanan darat menuju Panarukan (Panarukan memiliki pelabuhan internasional di jamannya, dan letaknya sangat strategis). Nah, mungkin kita bisa menggalinya dari sini.
Baiklah, itu saja sedikit urun rembug dari saya, seorang rakyat biasa yang gelisah dengan sejarah kota kecilnya sendiri.
Dirgahayu Jember
Baiklah, segera akan saya mulai tulisan tentang kota kecil Jember.
Pada saat orang orang sedang sibuk meniupkan terompet tahun barunya, kota kecil Jember justru konsentrasi merayakan Hari Jadinya. Ya benar, pada 1 Januari 2012, Jember genap berusia 83 tahun.
Bercermin pada 1 Januari 1928, secara fakta dan hukum mulai saat itu Jember berubah menjadi ibukota Kabupaten. Dimulai dari ketentuan no 322 tanggal 9 Agustus 1928, berdasarkan staatblad. Jember ditetapkan sebagai Regentschap Djember. Tadinya Jember adalah salah satu wilayah Distrik dari Afdeling Bondowoso.
Kota ini terletak di bagian timur Propinsi Jawa Timur. Jaraknya dari Surabaya 198 km. Sebelah utara berbatasan dengan Bondowoso dan Probolinggo. Sebelah timur berbatasan dengan Banyuwangi. Sebelah barat berbatasan dengan Lumajang. Dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra Indonesia.
Jika kita menengok papan nama di Stasiun Jember, maka kita akan tahu ketinggian daerah kota, kurang lebih 87 meter diatas permukaan laut. Dan bila dirata rata, ketinggian di Jember 0 sampai dengan 3300 mdpl. Itu bila diukur bersama ketinggian Gunung Argopuro yang sebagian masuk wilayah Jember.
Hmmm, membicarakan sejarah memang seringkali menjemukan. Apalagi bila harus memperinci gambaran tentang sebuah kota mulai dari garis meridiennya, temperatur udara, musim, tata wilayah, SDA yang ada, dan sebagainya. Agar lebih terlihat menarik, mari kita tengok asal usul Jember dari sudut pandang mitologi.
Asal Usul Jember
Ada banyak versi tentang asal usul kota Jember. Saya akan mencomotnya satu saja, yang menurut saya (ubyektif) paling masuk akal.
Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi.
Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.
Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER.
Itulah Jember bila dilihat dari legenda yang ada. Saya tampilkan asal asul di atas dengan harapan, akan lahir imajimasi tentang Jember tempo dulu. Bahwa kota ini lahir bukan diebabkan oleh reruntuhan kerajaan, namun memang sengaja dibangun. Pernah saya singgung di tulisan perdana saya di sini, berjudul Jember. Akan saya ceritakan kembali dari sudut yang tidak sama.
Jember dalam lacakan sejarah
Sejarah hanya berhasil melacak daerah ini sampai dengan 1859. Sebelum itu, hanya berupa praduga. Bisa jadi ini karena Jember bukanlah daerah reruntuhan kerajaan. Adapun benda benda kuno yang ditemukan di daerah ini disinyalir merupakan peninggalan kerajaan Majapahit atau Blambangan (Atau kerajaan lain yang sempat melintas di sini.
Saya akan menggambarkan tentang bagaimana Jember sebelum 1859.
Jember hanya merupakan sebuah hutan yang luas dengan pohon pohon yang besar. Tanahnya berawa hingga menyuburkan segala jenis penyakit seperti wabah kolera dan disentri. Bila ingin tinggal di daerah ini, anda harus bisa mengatasi ganasnya alam. Itu gambaran singkatnya (ini benar benar saya gambarkan secara singkat).
Jember pada 1859
Dimulai dari sebuah perkebunan di Jember. Namanya LMOD. Atau lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di Jember tahun 1859. Pertengahan abad 19 Masehi.
Siapa pendirinya? Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal. Pertama, mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja.
Berhubung pribumi Jember sedikit, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah. Ohya, tentang masalah pribumi Jember yang sedikit, itu hanya asumsi dari saya saja. Soalnya sampai saat ini saya masih belum menemukan data tentang itu.
Dihadirkanlah tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras dan ulet. Namun demikian, pihak colonial kesulitan untuk masalah pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan control dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak banyak melahirkan pertentangan. Mempunyai kecenderungan watak penurut.
Alasan kedua kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember. Karena lancarnya Jalur transportasi.
Pada akhirnya, daerah ini semakin berkembang. Untuk mengangkut hasil bumi dan sebagainya, pihak kolonial butuh alat transportasi sebagai solusinya. Lalu dibukalah jalur kereta api dan selesai pada awal abad 20.
Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari Surabaya-Probolinggo-Jember dibarengi dengan membuat jalan darat (rintisan) yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah daerah di bagian barat.
Jember dianggap memiliki prospek yang lebih baik. Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember juga terjadi di wilayah karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah dari karesidenan Besuki.
Perpindahan itu menggunakan berbagai macam cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi Militer.
Kenapa mereka memilih Jember untuk dijadikan areal perkebunan?
Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa hal berikut ini :
1. Masalah pengairan
Tersedianya air yang sangat cukup
2. Tanahnya Subur
Kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan
3. Masalah infrastruktur transportasi dan komunikasi
Infrastruktur transportasi dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak kolonial.
4. Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859).
Masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau. Meskipun dengan jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja.
Masih banyak lagi sejarah kota kecil ini yang terlacak, meskipun jauh lebih banyak lagi yang belum terlacak. Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak tinggal diam. Di situsnya saya temukan kata kata seperti berikut ini.
Berbagai upaya baik seminar maupun penelitian yang telah dilakukan oleh lembaga penelitian, Perguruan Tinggi maupun oleh sejarawan belum bisa mengungkap kejelasan yang pasti tentang kapan Kabupaten ini lahir. Pemkab Jember masih memberi Kesempatan luas untuk menampung sumbangan pemikiran untuk dijadikan bahan kajian dalam menentukan fakta sejarah guna mengetahui kapan hari jadi Kabupaten Jember sebenarnya.
Begitulah, Jember kesulitan menentukan hari lahir yang sebenarnya. Dari kesulitan menentukan hari lahir, merembet pada kesulitan kesulitan yang lain. Contoh paling nyata, Jember selalu bingung menentukan arah budayanya. Istilah kasarnya, orang Jember selalu minder manakala harus membicarakan makanan khas, oleh oleh khas Jember dan kesenian milik Jember.
Alhasil, Jember sengaja membuat tarian bernama tari lahbako. Jember juga memproduksi jajanan suwar suwir dan dikatakan sebagai ‘asli Jember’ padahal jelas jelas suwar suwir terbuat dari sari tape. Sedang tape sendiri sudah terlalu identik dengan Kota Bondowoso.
Jember adalah sebuah daerah pandalungan. Tempat bertemunya berbagai budaya. Dua kebudayaan besar yang mendominasi adalah Jawa dan Madura. Adalah tidak mungkin mencari keaslian budaya. Apalagi bila dari sudut pandang saya pribadi yang tidak percaya dengan adanya budaya asli. Semua pasti mengalami akulturasi.
Solusi subyektif
Berbicara mengenai solusi, saya jadi teringat akan musik tradisional patrol. Musik ini tumbuh dan berkembang di kota kecil Jember. Sangat disayangkan, semakin hari musik rancak yang selalu dirindukan kehadirannya ini semakin terengah engah dan ditinggalkan. Ada anggapan bahwa patrol merupakan seni asli Madura (di sana dikenal dengan nama musik thong thong). Beberapa kota lain juga memiliki seni musik tradisional yang semacam ini.
Bila masyarakat Jember jeli, mereka akan menemukan sesuatu yang khas di musik patrol. Perbedaan yang sangat nampak adalah dari alat musiknya. Musik thong thong Madura menggunakan saronen sebagai alat tiupnya. Sementara musik patrol menggunakan seruling. Lagu yang dinyanyikan juga lebih berwarna. Kadang lagu Madura kadang lirik lirik Jawa. Inilah bukti adanya perkawinan budaya jawa madura.
Dilihat dari namanya, patrol. Dulunya musik ini digunakan oleh masyarakat Jember untuk memanggil burung dara peliharaannya. Selain itu juga sebagai media komunikasi. Ini untuk mengatasi jarak antar rumah yang berjauhan, juga sebagai penanda manakala sewaktu waktu terjadi sesuatu. Misalnya bencana alam, pencurian, kematian dan sebagainya. Mengenai model ketukannya, tergantung kesepakatan.
Seiring perkembangan areal perkebunan, musik patrol juga digunakan untuk berpatroli keliling kebun, demi memastikan semuanya baik baik saja.
Begitulah, tak ada yang asli di Jember. Kita harus mengesampingkan kata kata asli. Karena memang lebih bijak bila kata asli diganti dengan kata khas.
Tentang sejarah
Saya tahu, penarikan sejarah yang dimulai pada 1859 lahir di wilayah akademisi Universitas Jember. Tapi itu bukan final. Terbukti, di sana terdapat celah. Disebutkan bahwa pihak kolonial tertarik membangun perkebunan tembakau karena sudah ada masyarakat lokal Jember yang bisa meracik tembakau. Nah, tugas kita hanyalah mencari data di tahun sebelum 1859. Dan ini bukan sebuah kemustahilan.
Saya contohkan tentang kerajaan Sriwijaya. Ada peninggalan prasasti dan diyakini, keberadaan Sriwijaya sudah ada pada abad ke tujuh. Karena peperangan di abad 12, kerajaan ini jatuh dan terlupakan. Eksistensinya baru diketahui lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis.
Saya yakin Jember bisa melacak kembali sejarahnya bila dilakukan benar benar, bukan hanya sambilan. Dan tidak hanya terjebak pada pembangunan identitas yang bersifat populer.
Memberikan porsi yang cukup pada sejarah itu indah. Setidaknya, dengan menghargai sejarah, Jember akan terlihat lebih anggun dalam menghadapi era global.
Bagaimana memulainya?
Kenapa tidak dimulai dengan pembangunan Jalan Deandles? dari sana saja, itu sudah mematahkan teori bahwa Jember hanya terdeteksi sejak 1859. Atau kalau ingin yang lebih prestisius lagi, mari kita tengok tahun 1359. Saat itu Raja Hayam Wuruk sedang melakukan perjalanan darat menuju Panarukan (Panarukan memiliki pelabuhan internasional di jamannya, dan letaknya sangat strategis). Nah, mungkin kita bisa menggalinya dari sini.
Baiklah, itu saja sedikit urun rembug dari saya, seorang rakyat biasa yang gelisah dengan sejarah kota kecilnya sendiri.
Dirgahayu Jember
Tags: afdeling bondowoso musik tradisional patrol jember jember kota yang bingung dengan sejarahnya landbauw maatshcappij oud djember sejarah jember
Beberapa Versi Asal-usul Nama Kabupaten Jember yang Masuk Akal dan yang Tidak
Beberapa Versi Asal-usul Nama Kabupaten Jember yang Masuk Akal dan yang Tidak
Di banding dua kabupaten tetangga yaitu Banyuwangi dan Lumajang, Jember merupakan kabupaten di wilayah tapal kuda Jawa Timur yang tidak memiliki asal-usul resmi
yang diakui oleh pemerintah kabupaten. Dasar penentuan hari lahir
Jember masih (saya sebut masih karena saya berharap suatu saat kelak
akan diubah) berdasar surat keputusan pemerintah Hindia Belanda.
Meskipun penentuan hari lahir Jember yang berdasar keputusan penjajah
ini sama sekali tidak saya setujui, namun untuk sementara tak apalah
dipakai.
Di dunia maya, sedikitnya ada empat
versi asal-usul nama kabupaten Jember. Dari keempat versi tersebut ada
yang masuk akal dan ada yang tidak masuk
akal. Versi yang pertama adalah nama Jember berasal dari nama putri baik
hati yang bernama Jembersari. Versi yang kedua menyatakan nama Jember
berasal dari perisitiwa seorang putri yang diperkosa, yang akhirnya
disebut putri yang jembrek (bahasa Jawa: kotor, ternoda). Kedua
versi ini sama sekali tidak masuk akal. Pendapat yang ketiga mengatakan
bahwa nama Jember berasal dari topografi wilayah Jember yang kotor
berawa sehingga disebut Jember. Versi yang terakhir mengatakan bahwa
nama Jember muncul karena adanya persinggungan antara bahasa Jawa Jembar yang dilafalkan oleh penutur madura menjadi Jembher yang lambat laun menjadi Jember.
Dari keempat versi asal-usul kabupaten
Jember di atas, yang tidak masuk akal adalah dua yang pertama. Yaitu
berasal dari nama putri Jembersari dan peristiwa diperkosanya seorang
putri sehingga disebut putri jembrek alias Jember. Kedua versi ini tidak
masuk di akal karena sangat kecil kemungkinan nama seorang putri
menggunakan kata yang buruk. Semua nama putri dan pangeran kerajaan
berasal dari kata yang baik. Versi yang mengatakan bahwa nama Jember
berasal dari peristiwa diperkosanya seorang putri kerajaan di sungai
Bedadung juga tidak masuk akal. Pertama, karena di wilayah Jember,
tepatnya di pesisir selatan sudah ada kerajaan yang disebut Kerajaan
Sadeng yang sempat berdiri merdeka namun kemudian ditaklukkan oleh Raja
Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada. Versi diperkosanya putri Endang
Ratnawati anak Raja Brawijaya diceritakan bahwa Jember dulunya hutan
belantara sepenuhnya.
Versi yang cukup masuk akal adalah yang
mengatakan bahwa nama Jember berasal dari Jembrek yang berarti becek.
Diceritakan, dahulu kala wilayah Jember adalah hutan yang tanahnya
berawa. Bahkan dituliskan dalam sebuah blog bahwa ada wartawan pada
tahun 1920 yang mengatakan hanya butuh hujan sedikit untuk menjadikan
tanah di Jember berlumpur. Versi ini ada benarnya karena nama-nama desa
dan kampung di Jember banyak yang menggunakan rowo dan curah. Misalnya Rowotamtu di kecamatan Rambipuji, Rowotengu, Rowotengah (kecamatan Sumberbaru), Curah Nongko di kecamatan Tempurejo. Rowo merupakan padanan dari rawa, yaitu tanah yang berlumpur. Begitu juga dengan curah. Curah artinya sungai alam yang landai tapi tidak terlalu besar dan berfungsi sebagai pembuangan.
Versi yang terakhir yang paling masuk
akal mengenai asal-usul nama Jember adalah versi yang mengatakan bahwa
Jember berasal dari kata Jembar yang berarti luas atau lapang. Sebuta Jembar muncul karena wilayah Jember yang masih sangat luas dan tidak bertuan,
masih lebih banyak hutannya daripada perkampungannya, hal ini karena
tidak adanya pusat pemerintahan/kerajaan yang merdeka setelah Kerajaan
Sadeng ditaklukkan. Oleh sebab itu, wilayah Jember menjadi tujuan
migrasi. Para pendatang berasal dari dua wilayah yang berbeda, yaitu
daerah penutur bahasa Jawa (dari Jawa Timur bagian barat) dari utara
penutur bahasa Madura.
Yang terlebih dulu sampai dan mendiami
wilayah yang lapang adalah tersebut adalah penutur bahasa Jawa. Waktu
kedatangan penutur bahasa Jawa di wilayah Jember terbukti dengan nama
desa di wilayah ini hampir semuanya menggunakan bahasa Jawa. Jadi,
penyebutan nama Jembar sebelum menjadi jember merupakan hal yang masuk akal. Jembar dilafalkan jhembher
oleh lidah penutur bahasa Madura. Lambat laun, nama ini yang kemudian
dipakai sebagai nama resmi kabupaten Jember dengan pelafalan yang sudah
disesuaikan seperti sekarang. Sampai sekarang, penduduk Jember masih
terdiri dari penutur Jawa dan Madura serta penutur Jawa-Madura yang
mengakibatkan munculnya istilah yang terbentuk dari akulturasi
(integrasi) bahasa Jawa dan Madura yang disepakati oleh masyarakatnya.
Sejarah Kota Jember
Sejarah Kota Jember
Pada masa 1900-an daerah Jember bukanlah sebuah kota, melainkan bagian
dari Bondowoso yang dijadikan daerah perkebunan dan irigasi oleh
Belanda. Jember sendiri sebenarnya bukan daerah pemukiman, sehingga saat
ini, nyaris tidak ada penduduk Jember yang asli Jember. Kebanyakan dari
mereka adalah imigran dari Madura (Sumenep, Pamekasan dll) dan Jawa
pedalaman (Tulungagung, Blitar, Trenggalek, Madiun dan sekitarnya) yang
dipekerjakan di perkebunan oleh Belanda. Apalagi semenjak dibukanya
jalur kereta api Surabaya - Jember - Banyuwangi semakin banyaklah
pendatang dari daerah-daerah tersebut mencari kehidupan dan harapan baru
di daerah yang menjanjikan ini. Baik di perkebunan maupun di jawatan
kereta api. Contohnya kakek buyut saya yang asli Tulungagung dipindahkan
oleh pemerintahan Hindia Belanda bersama semua keluarganya untuk
bekerja di stasiun Tanggul daerah Jember Barat. Jadi bisa dimaklumi
kenapa Jember tidak memiliki kesenian yang khas seperti Reog, Kuda
Lumping dan lainnya.
Sebutan Jember
Banyak istilah tentang nama Jember. Ada yang mengartikan Jember berasal dari kata Jembrek (becek). Ada juga Jember dari bahasa Jawa alus yang artinya kotor, ini berkaitan dengan kisah salah satu Putri Raja Brawijaya (Raja Majapahit) yang bernama Endang Retnawati, juga ada yang mengkaitkan dengan nama seorang Putri kerajaan di Jember Selatan yang bernama Putri Jembarsari, dan ada juga yang menganggapnya berasal dari kata jembar (luas). Hmm... Banyak sekali versi, dan saya juga tidak tahu yang mana yang benar. Jadi saya ambil satu kisah yang terakhir.
Jembar (Jawa), Jembher (Madura), Jember
Telah kita ketahui bahwa daerah Jember saat ini dihuni oleh dua suku mayoritas, yaitu Jawa dan Madura. Suku Jawa kebanyakan bermukim di daerah selatan yang merupakan dataran rendah dekat pantai sedangkan suku madura kebanyakan bermukim di daerah utara yang merupakan daerah pegunungan dari rangkaian pegunungan hiyang dengan puncaknya Gunung Argopura, Ijen, Raung yang kesemuanya masih aktif. Kedua suku ini justru bertemu di sepanjang bagian barat tengah dan timur Jember. Sehingga terjadi percampuran bahasa yang memunculkan logat dan istilah khas Jember. Jadi bukan hal yang aneh bila masyarakat daerah barat, tengah & timur Jember bisa menguasai dua bahasa daerah sekaligus. Saya sendiri bermukim di daerah Jember Barat hehehe...
Kisah ini bermula ketika imigran dari Jawa & Madura bertemu pada satu titik. Lalu (katanya) si orang Jawa bilang, "Nang kene ae lemahe sek jembar" dan si Madura bilang, "Eh dinak beih tanahna gik jembher", (dengan penekanan di huruf 'b') jadi bila digabung muncullah istilah Jember yang sudah tidak mengalami penekanan di huruf 'b' lagi wkwkwk...
Hingga pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 9 Agustus 1928 tentang dipisahkannya daerah Jember dari bagian Bondowoso dan mulai aktif secara sah sesuai hukum pada 1 Januari 1929 Kabupaten Jember lahir dengan bupatinya yang pertama yaitu Bapak Noto Hadinegoro (yang namanya diabadikan sebagai nama Lapangan Terbang Noto Hadinegoro), yang saat ini baru melayani penerbangan Jember-Surabaya PP.
Sumber
Asal Mula Kota jember menurut cerita rakyat.
Cerita ini berkaitan erat dengan cerita-cerita kerajaan yang beredar di masyarakat jawa timur. Konon di pantai selatan pada zaman dahulu kala ada kerajaan yang sangat sentosa. Sang raja sangat arif dan bijaksana. Segala hasil bumi negerinya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. sehingga rakyat bisa hidup secara aman dan tenteram. Kemakmuran kerajaan tersebut mengundang decak kagum dari kerajaan lain disekitarnya. Namun, hal tersebut juga yang mengundang kelompok bajak laut utk menyerang kerajaan tersebut. Mereka berhasrat menaklukkan dan mengambil segala kekayaan yang ada dari kerajaan tsb. Para bajak laut pun mulai menyusun rencana. Mereka mengetahui kalau kerajaan tersebut memiliki prajurit yang tangguh. sehingga mereka memilih menunggu hingga para pengawal kerajaan sedang lengah untuk melakukan penyerangan. Sontak pasukan kerajaan kalang kabut dengan serangan yang mendadak itu. Bahkan sang Raja ikut bertempur langsung bersama prajuritnya. Sang raja gugur dalam pertempuran tersebut sebagai seorang pahlawan. Para pangeran dan menteri pun juga tidak luput dari serangan yang sangat beringas tsb.Pasukan pengawal kerajaan hanya berhasil menyelamatkan "Putri Jembarsari". Ia lah satunya pewaris kerajaan yang berhasil diselamatkan.
Sang putri bersama beberapa pengawal kerajaan lari jauh mencari tempat yang aman. Tanpa mengetahui jika ada keluarga kerajaan yang selamat.Kawanan bajak laut tersebut berpesta atas kemenangan itu. Tampuk kekuasaan kerajaan diambil oleh pimpinan bajak laut . Sementara itu, pengawal kerajaan yang mengawal Putri Jembarsari tiba di tempat yang aman. Di tempat persembunyian tersebut,sang putri diajarkan berbagai ilmu beladiri. Dengan kecerdasan yang dimiliki sang putri, Putri Jembarsari dapat dengan mudah menerima berbagai ilmu tsb. Sekarang, Putri Jembarsari telah tumbuh menjadi gadis belia dan juga seorang pendekar.Suatu ketika, Putri Jembarsari memerintahkan pasukannya untuk membuka hutan belantara menjadi suatu perkampungan yang aman.
Sehingga banyak orang dari luar yang berdatangan, dan menjadi warga di daerah tersebut. Singkat cerita, daerah tersebut menjadi sebuah kerajaan kecil dan Putri Jembarsari yang menjadi ratunya. Mari kita kembali lagi untuk menengok kerajaan sebelumnya, yang telah diambil alih oleh bajak laut. Dikarenakan raja bajak laut yang tidak cakap dalam mengurusi kerajaan serta sikapnya yang sewenang-wenang. Menyebabkan terjadinya pemberontakan dimana-mana. Hingga akhirnya raja bajak laut tewas. Rakyat di kerajaan tsb lalu mencari Putri Jembarsari supaya bisa meneruskan tahta kerajaan ayahnya dulu yang terkenal sangat arif dan bijaksana. Mempertimbangkan usul dari sang penasihat, Putri Jembarsari setuju untuk menggabungkan 2 kerajaan tersebut. akhirnya kerajaan yang dipimpin oleh Putri Jembarsari semakin luas. Putri Jembarsari memerintah seperti ayahnya dulu, dengan arif dan bijaksana. Namun, ada yang iri dengan kesuksesan sang Putri. Saat melakukan kunjungan keluar kota, Putri Jembarsari diserang. Putri Jembarsari pun gugur. Untuk mengenang jasa Sang putri, kerajaan tersebut diberi nama "Kerajaan Jembarsari".Seiring waktu, nama Jembarsari berubah menjadi "Jember"
Sumber
Kabupaten Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928.
Pemerintah Regenschap Jember yang semula terbagi dalam tujuh Wilayah Distrik, pada tanggal 1 Januari 1929 sejak berlakunya Staatsbland No. 46/1941 tanggal 1 Maret 1941 Wilayah Distrik dipecah menjadi 25 Onderdistrik, yaitu:
Distrik Jember, meliputi onderdistrik Jember, Wirolegi, dan Arjasa.
Distrik Kalisat, meliputi onderdistrik Kalisat, Ledokombo, Sumberjambe, dan Sukowono.
Distrik Rambipuji, meliputi onderdistrik Rambipuji, Panti, Mangli, dan Jenggawah.
Distrik Mayang, meliputi onderdistrik Mayang, Silo, Mumbulsari, dan Tempurejo.
Distrik Tanggul meliputi onderdistrik Tanggul, Sumberbaru, dan Bangsalsari.
Distrik Puger, meliputi onderdistrik Puger, Kencong Gumukmas, dan Umbulsari.
Distrik Wuluhan, meliputi onderdistrik Wuluhan, Ambulu, dan Balung.
Berdasarkan Undang Undang No. 12/1950 tentang Pemerintah Daerah Kabupaten di Jawa Timur, ditetapkan pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur (dengan Perda), antara lain Daerah Kabupaten Jember ditetapkan menjadi Kabupaten Jember.
Dengan dasar Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1976 tanggal 19 April 1976, dibentuklah Wilayah Kota Jember dengan penataan wilayah-wilayah baru sebagai berikut:
Kacamatan Jember dihapus,
Dibentuk tiga kecamatan baru, masing-masing Sumbersari, Patrang dan Kaliwates.
Kecamatan Wirolegi menjadi Kecamatan Pakusari dan Kecamatan Mangli menjadi Kecamatan Sukorambi.
Bersamaan dengan pembentukan Kota Administratif Jember, wilayah Kewedanan Jember bergeser pula dari Jember ke Arjasa dengan wilayah kerja meliputi Arjasa, Pakusari, dan Sukowono yang sebelumnya masuk Distrik Kalisat. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, pada perkembangan berikutnya, secara administratif Kabupaten Jember saat itu terbagi menjadi tujuh Wilayah Pembantu Bupati, satu wilayah Kota Administratif, dan 31 Kecamatan.
Dengan diberlakukannya Otonomi Daerah sejak 1 Januari 2001 sebagai tuntutan No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kabupaten Jember telah melakukan penataan kelembagaan dan struktur organisasi, termasuk penghapusan lembaga Pembantu Bupati yang kini menjadi Kantor Koordinasi Camat. Selanjutnya, dalam menjalankan roda pemerintah di era Otonomi Daerah ini Pemerintah Kabupaten Jember dibantu empat Kantor Koordinasi Camat, yakni:
Kantor Koordinasi Camat Jember Barat di Tanggul
Kantor Koordinasi Camat Jember Selatan di Balung
Kantor Koordinasi Camat Jember Tengah di Rambipuji
Kantor Koordinasi Camat Jember Timur di Kalisat
Sebutan Jember
Banyak istilah tentang nama Jember. Ada yang mengartikan Jember berasal dari kata Jembrek (becek). Ada juga Jember dari bahasa Jawa alus yang artinya kotor, ini berkaitan dengan kisah salah satu Putri Raja Brawijaya (Raja Majapahit) yang bernama Endang Retnawati, juga ada yang mengkaitkan dengan nama seorang Putri kerajaan di Jember Selatan yang bernama Putri Jembarsari, dan ada juga yang menganggapnya berasal dari kata jembar (luas). Hmm... Banyak sekali versi, dan saya juga tidak tahu yang mana yang benar. Jadi saya ambil satu kisah yang terakhir.
Jembar (Jawa), Jembher (Madura), Jember
Telah kita ketahui bahwa daerah Jember saat ini dihuni oleh dua suku mayoritas, yaitu Jawa dan Madura. Suku Jawa kebanyakan bermukim di daerah selatan yang merupakan dataran rendah dekat pantai sedangkan suku madura kebanyakan bermukim di daerah utara yang merupakan daerah pegunungan dari rangkaian pegunungan hiyang dengan puncaknya Gunung Argopura, Ijen, Raung yang kesemuanya masih aktif. Kedua suku ini justru bertemu di sepanjang bagian barat tengah dan timur Jember. Sehingga terjadi percampuran bahasa yang memunculkan logat dan istilah khas Jember. Jadi bukan hal yang aneh bila masyarakat daerah barat, tengah & timur Jember bisa menguasai dua bahasa daerah sekaligus. Saya sendiri bermukim di daerah Jember Barat hehehe...
Kisah ini bermula ketika imigran dari Jawa & Madura bertemu pada satu titik. Lalu (katanya) si orang Jawa bilang, "Nang kene ae lemahe sek jembar" dan si Madura bilang, "Eh dinak beih tanahna gik jembher", (dengan penekanan di huruf 'b') jadi bila digabung muncullah istilah Jember yang sudah tidak mengalami penekanan di huruf 'b' lagi wkwkwk...
Hingga pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 9 Agustus 1928 tentang dipisahkannya daerah Jember dari bagian Bondowoso dan mulai aktif secara sah sesuai hukum pada 1 Januari 1929 Kabupaten Jember lahir dengan bupatinya yang pertama yaitu Bapak Noto Hadinegoro (yang namanya diabadikan sebagai nama Lapangan Terbang Noto Hadinegoro), yang saat ini baru melayani penerbangan Jember-Surabaya PP.
Sumber
Asal Mula Kota jember menurut cerita rakyat.
Cerita ini berkaitan erat dengan cerita-cerita kerajaan yang beredar di masyarakat jawa timur. Konon di pantai selatan pada zaman dahulu kala ada kerajaan yang sangat sentosa. Sang raja sangat arif dan bijaksana. Segala hasil bumi negerinya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. sehingga rakyat bisa hidup secara aman dan tenteram. Kemakmuran kerajaan tersebut mengundang decak kagum dari kerajaan lain disekitarnya. Namun, hal tersebut juga yang mengundang kelompok bajak laut utk menyerang kerajaan tersebut. Mereka berhasrat menaklukkan dan mengambil segala kekayaan yang ada dari kerajaan tsb. Para bajak laut pun mulai menyusun rencana. Mereka mengetahui kalau kerajaan tersebut memiliki prajurit yang tangguh. sehingga mereka memilih menunggu hingga para pengawal kerajaan sedang lengah untuk melakukan penyerangan. Sontak pasukan kerajaan kalang kabut dengan serangan yang mendadak itu. Bahkan sang Raja ikut bertempur langsung bersama prajuritnya. Sang raja gugur dalam pertempuran tersebut sebagai seorang pahlawan. Para pangeran dan menteri pun juga tidak luput dari serangan yang sangat beringas tsb.Pasukan pengawal kerajaan hanya berhasil menyelamatkan "Putri Jembarsari". Ia lah satunya pewaris kerajaan yang berhasil diselamatkan.
Sang putri bersama beberapa pengawal kerajaan lari jauh mencari tempat yang aman. Tanpa mengetahui jika ada keluarga kerajaan yang selamat.Kawanan bajak laut tersebut berpesta atas kemenangan itu. Tampuk kekuasaan kerajaan diambil oleh pimpinan bajak laut . Sementara itu, pengawal kerajaan yang mengawal Putri Jembarsari tiba di tempat yang aman. Di tempat persembunyian tersebut,sang putri diajarkan berbagai ilmu beladiri. Dengan kecerdasan yang dimiliki sang putri, Putri Jembarsari dapat dengan mudah menerima berbagai ilmu tsb. Sekarang, Putri Jembarsari telah tumbuh menjadi gadis belia dan juga seorang pendekar.Suatu ketika, Putri Jembarsari memerintahkan pasukannya untuk membuka hutan belantara menjadi suatu perkampungan yang aman.
Sehingga banyak orang dari luar yang berdatangan, dan menjadi warga di daerah tersebut. Singkat cerita, daerah tersebut menjadi sebuah kerajaan kecil dan Putri Jembarsari yang menjadi ratunya. Mari kita kembali lagi untuk menengok kerajaan sebelumnya, yang telah diambil alih oleh bajak laut. Dikarenakan raja bajak laut yang tidak cakap dalam mengurusi kerajaan serta sikapnya yang sewenang-wenang. Menyebabkan terjadinya pemberontakan dimana-mana. Hingga akhirnya raja bajak laut tewas. Rakyat di kerajaan tsb lalu mencari Putri Jembarsari supaya bisa meneruskan tahta kerajaan ayahnya dulu yang terkenal sangat arif dan bijaksana. Mempertimbangkan usul dari sang penasihat, Putri Jembarsari setuju untuk menggabungkan 2 kerajaan tersebut. akhirnya kerajaan yang dipimpin oleh Putri Jembarsari semakin luas. Putri Jembarsari memerintah seperti ayahnya dulu, dengan arif dan bijaksana. Namun, ada yang iri dengan kesuksesan sang Putri. Saat melakukan kunjungan keluar kota, Putri Jembarsari diserang. Putri Jembarsari pun gugur. Untuk mengenang jasa Sang putri, kerajaan tersebut diberi nama "Kerajaan Jembarsari".Seiring waktu, nama Jembarsari berubah menjadi "Jember"
Sumber
Kabupaten Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928.
Pemerintah Regenschap Jember yang semula terbagi dalam tujuh Wilayah Distrik, pada tanggal 1 Januari 1929 sejak berlakunya Staatsbland No. 46/1941 tanggal 1 Maret 1941 Wilayah Distrik dipecah menjadi 25 Onderdistrik, yaitu:
Distrik Jember, meliputi onderdistrik Jember, Wirolegi, dan Arjasa.
Distrik Kalisat, meliputi onderdistrik Kalisat, Ledokombo, Sumberjambe, dan Sukowono.
Distrik Rambipuji, meliputi onderdistrik Rambipuji, Panti, Mangli, dan Jenggawah.
Distrik Mayang, meliputi onderdistrik Mayang, Silo, Mumbulsari, dan Tempurejo.
Distrik Tanggul meliputi onderdistrik Tanggul, Sumberbaru, dan Bangsalsari.
Distrik Puger, meliputi onderdistrik Puger, Kencong Gumukmas, dan Umbulsari.
Distrik Wuluhan, meliputi onderdistrik Wuluhan, Ambulu, dan Balung.
Berdasarkan Undang Undang No. 12/1950 tentang Pemerintah Daerah Kabupaten di Jawa Timur, ditetapkan pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur (dengan Perda), antara lain Daerah Kabupaten Jember ditetapkan menjadi Kabupaten Jember.
Dengan dasar Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1976 tanggal 19 April 1976, dibentuklah Wilayah Kota Jember dengan penataan wilayah-wilayah baru sebagai berikut:
Kacamatan Jember dihapus,
Dibentuk tiga kecamatan baru, masing-masing Sumbersari, Patrang dan Kaliwates.
Kecamatan Wirolegi menjadi Kecamatan Pakusari dan Kecamatan Mangli menjadi Kecamatan Sukorambi.
Bersamaan dengan pembentukan Kota Administratif Jember, wilayah Kewedanan Jember bergeser pula dari Jember ke Arjasa dengan wilayah kerja meliputi Arjasa, Pakusari, dan Sukowono yang sebelumnya masuk Distrik Kalisat. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, pada perkembangan berikutnya, secara administratif Kabupaten Jember saat itu terbagi menjadi tujuh Wilayah Pembantu Bupati, satu wilayah Kota Administratif, dan 31 Kecamatan.
Dengan diberlakukannya Otonomi Daerah sejak 1 Januari 2001 sebagai tuntutan No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kabupaten Jember telah melakukan penataan kelembagaan dan struktur organisasi, termasuk penghapusan lembaga Pembantu Bupati yang kini menjadi Kantor Koordinasi Camat. Selanjutnya, dalam menjalankan roda pemerintah di era Otonomi Daerah ini Pemerintah Kabupaten Jember dibantu empat Kantor Koordinasi Camat, yakni:
Kantor Koordinasi Camat Jember Barat di Tanggul
Kantor Koordinasi Camat Jember Selatan di Balung
Kantor Koordinasi Camat Jember Tengah di Rambipuji
Kantor Koordinasi Camat Jember Timur di Kalisat
Pulau Madura
Pulau Madura
Topografi Pulau Madura.
|
|
| Geografi | |
|---|---|
| Lokasi | Asia Tenggara |
| Koordinat | |
| Kepulauan | Kepulauan Sunda Besar |
| Jumlah pulau | 127 Pulau |
| Pulau besar | Kepulauan Kangean, Kepulauan Masalembo. |
| Luas | 5,168 km² |
| Puncak tertinggi | Bukit Geger, Bukit Payudan |
| Negara | |
Indonesia
|
|
| Provinsi | Jawa Timur |
| Demografi | |
| Populasi | 3.647.000 (per 2013) |
| Kepadatan | 706/km² |
| Kelompok etnik | Madura |
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa.
Jembatan Nasional Suramadu merupakan pintu masuk utama menuju Madura, selain itu untuk menuju pulau ini bisa dilalui dari jalur laut ataupun melalui jalur udara. Untuk jalur laut, bisa dilalui dari Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Kamal di bangkalan, Selain itu juga bisa dilalui dari Pelabuhan Jangkar Situbondo menuju Pelabuhan Kalianget di Sumenep, ujung timur Madura.
Pulau Madura bentuknya seakan mirip badan Sapi, terdiri dari empat Kabupaten, yaitu : Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Madura, Pulau dengan sejarahnya yang panjang, tercermin dari budaya dan keseniannya dengan pengaruh islamnya yang kuat.
Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan salah satu etnis suku dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa Timur biasa disebut wilayah Tapal Kuda, dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo, Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang .
Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan, masyarakat Madura juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja keras (abhantal omba' asapo' angen). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan masyarakat Madura, mereka memiliki sebuah falsafah: katembheng pote mata, angok pote tolang. Sifat yang seperti inilah yang melahirkan tradisi carok pada sebagian masyarakat Madura.
Daftar isi
Babad Madura
Sejarah
Litografi oleh Auguste van Pers yang menggambarkan seorang pangeran dari Madura dan pelayannya di masa Hindia Belanda
Sekitar tahun 900-1500, pulau ini berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Hindu Jawa timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit. Di antara tahun 1500 dan 1624, para penguasa Madura pada batas tertentu bergantung pada kerajaan-kerajaan Islam di pantai utara Jawa seperti Demak, Gresik, dan Surabaya. Pada tahun 1624, Madura ditaklukkan oleh Mataram. Sesudah itu, pada paruh pertama abad kedelapan belas Madura berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda (mulai 1882), mula-mula oleh VOC, kemudian oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pada saat pembagian provinsi pada tahun 1920-an, Madura menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur.[1]
Sejarah mencatat Aria Wiraraja adalah Adipati Pertama di Madura, diangkat oleh Raja Kertanegara dari Singosari, tanggal 31 Oktober 1269. Pemerintahannya berpusat di Batuputih Sumenep, merupakan keraton pertama di Madura. Pengangkatan Aria Wiraraja sebagai Adipati I Madura pada waktu itu, diduga berlangsung dengan upacara kebesaran kerajaan Singosari yang dibawa ke Madura. Di Batuputih yang kini menjadi sebuah Kecamatan kurang lebih 18 Km dari Kota Sumenep, terdapat peninggalan-peninggalan keraton Batuputih, antara lain berupa tarian rakyat, tari Gambuh dan tari Satria.
Geografi dan Adiministrasi
GeografiKondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di bagian selatan dan semakin kearah utara tidak terjadi perbedaan elevansi ketinggian yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama dilereng-lereng yang tinggi letaknya justru terlalu banyak sedangkan di lereng-lereng yang rendah malah kekurangan dengan demikian mengakibatkan Madura kurang memiliki tanah yang subur.
Secara geologis Madura merupakan kelanjutan bagian utara Jawa, kelanjutan dari pengunungan kapur yang terletak di sebelah utara dan di sebelah selatan lembah solo. Bukit-bukit kapur di Madura merupakan bukit-bukit yang lebih rendah, lebih kasar dan lebih bulat daripada bukit-bukit di Jawa dan letaknyapun lebih bergabung.
Luas keseluruhan Pulau Madura kurang lebih 5.168 km², atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. Pulau ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten. Dengan Luas wilayah untuk kabupaten Bangkalan 1.144, 75 km² terbagi dalam 8 wilayah kecamatan, kabupaten Sampang berluas wilayah 1.321,86 km², terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas wilayah 844,19 km², yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan kabupaten Sumenep mempunyai luas wilayah 1.857,530 km², terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar diwilayah daratan dan kepulauan.
Administrasi
Madura dibagi menjadi empat kabupaten, yaitu:
| Kabupaten | Ibu Kota | Luas Area | Populasi 2010 |
|---|---|---|---|
| Kabupaten Bangkalan | Bangkalan | 1,260 | 907,255 |
| Kabupaten Sampang | Sampang | 1,152 | 876,950 |
| Kabupaten Pamekasan | Pamekasan | 733 | 795,526 |
| Kabupaten Sumenep | Sumenep | 1,147 | 1,041,915 |
Ekonomi
Pertanian subsisten (skala kecil untuk bertahan hidup) merupakan kegiatan ekonomi utama. Jagung dan singkong merupakan tanaman budi daya utama dalam pertanian subsisten di Madura, tersebar di banyak lahan kecil. Ternak sapi juga merupakan bagian penting ekonomi pertanian di pulau ini dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga petani selain penting untuk kegiatan karapan sapi. Perikanan skala kecil juga penting dalam ekonomi subsisten di sana.Tanaman budi daya yang paling komersial di Madura ialah tembakau. Tanah di pulau ini membantu menjadikan Madura sebagai produsen penting tembakau dan cengkeh bagi industri kretek domestik. Sejak zaman kolonial Belanda, Madura juga telah menjadi penghasil dan pengekspor utama garam. Selain komoditas tanaman diatas, sejak akhir tahun 2012, Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI) mencoba Pulau ini untuk dijadikan lahan pengembangan tebu di Jawa Timur.
Bangkalan yang terletak di ujung barat Madura telah mengalami industrialisasi sejak tahun 1980-an. Daerah ini mudah dijangkau dari Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, dan dengan demikian berperan menjadi daerah suburban bagi para penglaju ke Surabaya, dan sebagai lokasi industri dan layanan yang diperlukan dekat dengan Surabaya. Jembatan Suramadu yang sudah beroperasi sejak 10 Juni 2009, diharapkan meningkatkan interaksi daerah Bangkalan dengan ekonomi regional.
Sumenep sebagai daerah wisata juga menyimpan banyak sumber daya alam berupa gas alam yang dieksplorasi untuk mensuplai kebutuhan gas industri yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Sumur-sumur gas sebagian besar tersebar di daerah lepas pantai Kepulauan Sumenep.
Kondisi Sosial Masyarakat
Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura juga senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi Tekonokrat, Birokrat, Menteri atau Pangkat tinggi di dunia militer.Transportasi
Untuk menuju pulau ini, ada beberapa pilihan sarana transportasi untuk para wisatawan diantaranya :- Bus AKAS, bus ini melayani antar kota dalam provinsi dan antar provinsi. Di masing-masing kabupaten bus ini akan singgah sejenak untuk menurunkan penumpang, pemberhentian bus paling terakhir, akan berakhir di Kalianget, Kabupaten Sumenep. Biasanya Bus AKAS tarif ekonomi akan melewati Pelabuhan Kamal bukan jembatan nasional Suramadu.
- Bus AKAS Patas, bus ini akan melewati Jembatan Suramadu, untuk penumpang tujuan Bangkalan Kota biasanya penumpang akan diturunkan di pertigaan Tangkel akses tol Suramadu.
- Pesawat Udara, untuk menikmati layanan transportasi ini, para penumpang akan diterbangkan dari Bandar Udara Trunojoyo, Sumenep dengan tujuan Surabaya.
- Kapal Laut, bisa dinikamati dengan layanan rute Jangkar - Kalianget ataupun Ujung-Kamal.
Budaya
- Mamaca
- Mamapar gigi
- Kalenengan Karaton
- Tandha'
- Tan-pangantanan
- Ojhung
- Topeng dhalang
- Topen getthak
- Bajang Kole' Bhasa Madura
- Lodrok
- Sape Sono'
- Karapan Sapi
- Upacara Adat Nyadar
- Upacara Adat Penganten Ngekak Sangger
Seni
Seni Tari
Seni Kriya
- Tari Moang Sangkal
- Tari Codi' Somekkar
- Tari Gambu
Seni Kriya
- Batik Tulis Madura
- Keris, sentra pembuatan senjata keris di Sumenep terdapat di desa Aeng tong tong dan desa desa Palongan Kecamatan Bluto,
- Sentra Ukiran Sumenep Madura terdapat di desa Karduluk,
- Sentra pembuatan Perahu Madura terdapat di desa Slopeng dan Pulau Sapudi,
- Sentra Pembuatan Topeng Madura
- Sentra Pembuatan Clurit
Pariwisata
Pulau Madura memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik. Salah satu icon wisata Madura adalah Karapan Sapi. Setiap tahun kerapan sapi diselenggarakan berjenjang dari tingkat Kecamatan, Kabupaten, dan tingkat pembantu wilayah Madura. Selain kerapan sapi ada juga kontes Sapi Sono' yang diperagakan oleh sapi-sapi betina. Selain itu untuk beberapa di kepulauan Sumenep ada juga Kerapan Kerbau. Selain karapan sapi yang menjadi objek wisata favorit ada juga beberapa wisata yang semuanya tersebar di 4 wilayah kabupaten diantaranya :Objek Wisata di Kabupaten Sumenep
Objek Wisata Sejarah, Budaya dan Arsitektur- Museum Keraton Sumenep merupakan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah Sumenep yang di dalamnya menyimpan berbagai koleksi benda-benda cagar budaya peninggalan keluarga Karaton Sumenep dan beberapa peninggalan masa kerajaan hindu budha seperti arca Wisnu dan Lingga yang ditemukan di Kecamatan Dungkek. Didalam museum terdapat juga beberapa koleksi pusaka peninggalan Bangsawan Sumenep seperti guci keramik dari Cina dan Kareta My Lord pemberian Kerajaan Inggris kepada Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I atas jasanya yang telah banyak membantu Thomas Stamford Raffles salah seorang Gubenur Inggris dalam penelitian yang dilakukannya di Indonesia.
- Keraton Sumenep merupakan peninggalan pusaka Sumenep yang dibangun oleh Raja/Adipati Sumenep XXXI, Panembahan Sumolo Asirudin Pakunataningrat dan diperluas oleh keturunannya yaitu Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I. Karaton Sumenep sendiri letaknya tepat berada di depan Museum Karaton Sumenep,
- Masjid Jamik Sumenep merupakan bangunan yang mempunyai arsitektur yang khas, memadukan berbagai kebudayaan menjadi bentuk yang unik dan megah, dibangun oleh Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat yang memerintah pada tahun 1762-1811 M dengan arsitek berkebangsaan tionghoa "law pia ngho"
- Kota Tua Kalianget letaknya di sebelah timur kota Sumenep, disini para pengunjung bisa melihat peninggalan-peninggalan Pabrik garam, Arsitektur Kolonial dan beberapa daerah pertahanan yang dibangun Oleh Pemerintahan Kolonial saat menjajah wilayah Sumenep,
- Rumah Adat Tradisional Madura Tanean Lanjhang , bisa ditemui di beberapa daerah menuju pantai lombang maupun menuju pantai slopeng,
- Benteng VOC Kalimo'ok di Kalianget.
- Pantai Lombang adalah pantai dengan hamparan pasir putih dan gugusan tanaman cemara udang yang tumbuh di areal tepi dan sekitar pantai. Suasananya sangat teduh dan indah sekali. Pantai Lombang adalah satu-satunya pantai di Indonesia yang ditumbuhi pohon cemara udang,
- Pantai Slopeng adalah pantai dengan hamparan gunung pasir putih yang mengelilingi sisi pantai sepanjang hampir 6 km. Kawasan pantai ini sangat cocok untuk mancing ria karena areal lautnya kaya akan beragam jenis ikan, termasuk jenis ikan tongkol,
- Pantai Ponjug di Pulau Talango,
- Pantai Badur di Kecamatan Batu Putih,
- Pantai Pasir Putih dan Terumbu Karang Pulau Saor (Kecamatan Sapeken),
- Kepulauan Kangean dan sekitarnya merupakan gugusan kepulauan Kabupaten Sumenep yang letaknya berada di wilayah ujung timur Pulau Madura. Mempunyai banyak pantai yang eksotik,
- Wisata Taman Laut Mamburit Pulau Arjasa,
- Wisata Taman Laut Gililabak Pulau Talango,
- Taman Air Kiermata di Kecamatan Saronggi,
- Goa Jeruk Asta Tinggi Sumenep,
- Goa Kuning di Kecamatan Kangean,
- Goa Payudan di Kecamatan Guluk-Guluk,
- Asta Karang Sabu merupakan kompleks pemakaman keluarga Raja / Adipati Sumenep yang memerintah pada abad 15 yaitu Pangeran Ario kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. di daerah karang sabu inilah beliau memimpin pemerintah Sumenep pada saat itu.
- Kompleks pemakaman Asta Tinggi Sumenep merupakan kompleks pemakaman Raja-Raja Sumenep yang dibangun pada tahun 1644 M. terletak di daerah dataran Tinggi Kebon Agung Sumenep.
- Asta Yusuf merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Pulau Talango, makam tersebut ditemukan oleh Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat ketika betolak menuju Bali pada tahun 1212 hijriah (1791),
- Asta Katandur merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Sumenep, Pangeran Katandur yang juga salah satu tokoh yang ahli dalam bidang pertanian dan menurut berbagai sumber, Pangeran Katandur juga merupakan pencipta tradisi kerapan sapi,
- Makam Pangeran Panembahan Joharsari yang merupakan salah satu Adipati Sumenep V yang pertama kali memeluk Agama islam di Bluto,
- Tirta Sumekar Indah merupakan salah satu kompleks pemandian kolam renang yang ada di Sumenep, letaknya berada di kecamatan Batuan, sebelah barat kota Sumenep. Letaknya yang strategis, dikelilingi Perkebunan Pohon Jati dan Jambu Mente serta tak jauh dari wisata kompleks pemakaman Asta Tinggi membuat pemandian ini banyak di kunjungi warga saat akhir pekan dan liburan sekolah,
- Water Park Sumekar, merupakan wisata air yang terletak tak jauh dibelakang lokasi Wisata kompleks Asta Tinggi, kondisi bangunannya yang terletak dilerang bukit Kasengan sangat menambah suasana alami di kawasan ini,
| Wikibuku memiliki buku bertajuk
|
- Alun-Alun Sumenep sekarang menjadi taman Adipura, setiap harinya khususnya pada malam hari dibangian utara Alun-Alun Sumenep ini terdapat pasar malam dengan menyajikan berbagai macam kuliner dan accesories yang bisa dinikmati dengan harga yang murah.
- Wisata kesehatan di Pulau Giliyang Kecamatan Dungkek merupakan daerah di kabupaten Sumenep yang mempunyai kandungan O2/oksigen sebesar 21,5% atau 215.000 ppm.[2]
Objek Wisata di Kabupaten Pamekasan
- Pantai Talang Siring, Kecamatan Montok
- Pantai Jumiang, Kecamatan Pademawu
- PantaiBatu Kerbuy
- Api tak kunjung padam
- Makam Batuampar
- Vihara Avalokitesara
- Situs Pangeran Rangga Sukawati
- Museum Daerah
- Pasar Batik Joko Tole
Objek Wisata di Kabupaten Sampang
- Pulau Mandangin
- Pantai Camplong
- Kuburan Madegan
- Waduk Klampis Desa Kramat kecamatan Kedungdung
- Air terjun Toroan
- Rimba monyet - Nepa Raden segoro
- Reruntuhan Pababaran
- Pemandian Sumber Otok
- Wisata Alam Goa Lebar
- Monumen Sampang
- Situs Pababaran Trunojoyo
- Situs Ratoh Ebuh
Objek Wisata di Kabupaten Bangkalan
- Pantai Rongkang
- Pantai Sambilangan
- Bukit Geger
- Kuburan Aermata
- Pantai Siring Kemuning di desa Macajah, Tanjungbumi
- Perahu Peninggalan Saichona Moh. Chollil di desa Telaga Biru, Tanjungbumi
- Mercusuar VOC , Sambilangan
- Jembatan Nasional Suramadu
Tokoh Madura
Madura Barat
- Pangeran Tengah 1592-1621. Saudara dari:
- Pangeran Mas 1621-1624
- Pangeran Praseno / Pangéran Tjokro di Ningrat I / Pangeran Cakraningrat I 1624-1647. Anak dari Tengah dan Ayah dari:
- Pangeran Tjokro Diningrat II / Pangeran Cakraningrat II 1647-1707, Panembahan 1705. Ayah dari:
- Raden Temenggong Sosro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat III / Pangeran Cakraningrat III 1707-1718. Saudara dari:
- Raden Temenggong Suro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat IV / Pangeran Cakraningrat IV 1718-1736. Ayah dari:
- Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I / Panembahan Tjokro Diningrat V / Pangeran Cakraningrat V 1736-1769. Kakek dari:
- Raden Adipati Sejo Adiningrat II / Panembahan Adipati Tjokro Diningrat VI / Pangeran Cakraningrat VI 1769-1779
- Panembahan Adipati Tjokro Diningrat VII / Pangeran Cakraningrat VII 1779-1815, Sultan Bangkalan 1808-1815. Anak dari Tjokro di Ningrat V dan Ayah dari:
- Tjokro Diningrat VIII / Pangeran Cakraningrat VIII, Sultan Bangkalan 1815-1847. Saudara dari:
- Panembahan Tjokro Diningrat IX / Pangeran Cakraningrat / Sultan Bangkalan 1847-1862. Ayah dari:
- Panembahan Tjokro Diningrat X/ Pangeran Cakraningrat X / Sultan Bangkalan 1862-1882.
- Pangeran Trunojoyo, Pahlawan Madura salah seorang keturunan Kerajaan Madura Barat dalam memberontak pemerintahan VOC di Jawa dan Madura
- Prabu Arya Wiraraja, Adipati Sumenep I pada tahun 1269 dan sebagai salah satu tokoh pendiri Kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.
- Pangeran Secadiningrat I
- Pangeran Secadiningrat II
- Pangeran Secadiningrat III Adipati Sumenep XIII tahun 1415 - 1460
- Pangeran Secadiningrat IV Adipati Sumenep 1460 - 1502
- Pangeran Secadiningrat V Adipati Sumenep 1502 - 1559
- Raden Tumenenggung Ario Kanduruan Adipati Sumenep 1559 - 1562
- Pangeran Lor dan Pangeran Wetan Adipati Sumenep 1562 - 1567
- Pangeran Keduk I Adipati Sumenep 1567 - 1574
- Pangeran Lor II Adipati Sumenep 1574 - 1589
- Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro I menjadi Adipati Sumenep 1589 - 1626
- Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa Adipati Sumenep 1626 - 1644
- Kanjeng R. Tumenggung Ario Jaingpatih Adipati Sumenep 1644 - 1648
- Kanjeng Pangeran Ario Yudonegoro Adipati Sumenep 1648 - 1672
- Kanjeng R. Tumenggung Pulang Jiwa dan Kanjeng Pangeran Seppo Adipati Sumenep 1672 - 1678
- Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro II Adipati Sumenep 1678 - 1709
- Kanjeng R. Tumenggung Wiromenggolo Adipati Sumenep 1709 - 1721
- Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro III Adipati Sumenep 1721 - 1744
- Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV Adipati Sumenep 1744 - 1749
- Raden Buka Adipati Sumenep 1749 - 1750
- Kanjeng R. Ayu Rasmana Tirtanegara dan Kanjeng R. Tumenggung Tirtanegara Adipati Sumenep 1750 - 1762
- Kanjeng R. Tumenggung Ario Asirudin / Pangeran Natakusuma I (Panembahan Somala) Sultan Sumenep tahun 1762 - 1811
- Sultan Abdurrahman Paku Nataningrat I (Kanjeng R. Tumenggung Abdurrahaman) Sultan Sumenep 1811 - 1854
- Panembahan Natakusuma II (Kanjeng R. Tumenggung Moh. Saleh Natanegara) menjadi Adipati Sumenep 1854 - 1879
- Kanjeng Pangeran Ario Mangkudiningrat Adipati Sumenep 1879 - 1901
- Kanjeng Pangeran Ario Pratamingkusuma Adipati Sumenep 1901 - 1926
- Kanjeng Pangeran Ario Prabuwinata Adipati Sumenep 1926 - 1929
Langganan:
Komentar (Atom)
Featured Post
AC Milan Perpanjang Kontrak Pierre Kalulu
-AC Milan resmi memperpanjang kontrak salah satu pemainnya. Pemain tersebut adalah Pierre Kalulu yang mendapatkan kontrak jangka panj...








